Mencari Bening Mata Air; Renungan A. Mustofa Bisri.
Diterbitkan Penerbit Kompas, September 2008.
Buku itu tipis saja. Membacanya, seharusnya tak perlu waktu lama. Tapi, ketika kesederhanaan dalam jumlah halaman itu berisi sebuah kebesaran pikir yang bagi saya luar biasa, saya tak akan bisa membacanya secara cepat, sebagaimana saya melahap buku-buku lainnya.
Bagaimana tidak? Hampir di tiap halamannya terkandung mutiara. Dan entah kenapa, mutiara itu bagaikan candu. Pertama, ketika membaca sekilas, tampaknya biasa. Pembacaan kedua, segera terasa keindahannya. Pembacaan ketiga, segera tampak maknanya. Pembacaan keempat, terasa "tamparan-tamparan"-nya. Pembacaan kelima dan seterusnya, hanya keindahan dan kedalaman makna yang semakin kentara dan semakin menampar kesadaran.
Ketika pembacaan dianggap cukup, maka perenungan yang menggantikannya. Perenungan pertama, menampar ingatan. Perenungan kedua, mendobrak kesadaran. Perenungan ketiga, menciptakan cermin di hadapan hati. Perenungan keempat, menawarkan kekuatan instropeksi. Perenungan kelima dan selanjutnya, menegaskan kepada kita bahwa kita ini masih saja menjadi manusia yang penuh "salah", seringkali sok, egois, namun (pada akhirnya, Insya Allah) siap membuat perubahan pemaknaan dalam sikap hidup, sekaligus mensikapi kehidupan itu sendiri.
***


0 comments:
Post a Comment