


"Jadilah manusia yang bisa memanusiakan manusia" - Pesan inilah yang seringkali aku teringat akan sosok kepribadian beliau DR KH Musthofa Bisri (GusMus)
”Jadilah bambu. Jangan jadi pisang. Daunnya lebar membuat anaknya tidak kebagian sinar matahari. Bambu lain rela telanjang asal anaknya, rebung, pakaiannya lengkap.” - "Islam Yes - Partai Islam No" (Metafora itulah yang berulang kali dilontarkan cendekiawan Nurcholish Madjid. Beliau salah satu orang yang menurutku pribadi adalah orang yang bisa mengerti, memaknai dan memahami ISLAM secara sempurna - Kata Gus Mus dalam peringatan 1000 hari Beliau di Taman Ismail Marzuki bersama kiai kanjeng beserta Budayawan serta Tokoh Lintas Agama mengatakan bahwa "Cak Nur inilah yang bila dianalogikan melihat ISLAM dengan melihat GAJAH adalah kemampuannya melihat GAJAH bukan semata melihat kakinya saja atau buntutnya saja melainkan melihat GAJAH secara keseluruhan. Lain lagi apa yang dikatakan oleh Mantan Pemimpin tertinggi koran ternama TEMPO - Goenawan Muhammad "Kerendahan hati adalah bagian terdalam dari hasrat berjabatan tangan. Kebencian selalu menjadi angkuh—tetapi kali ini angkuh itu menjadi angkuh karena sebenarnya ada yang membuat ragu, cemas, dan rapuh. Kebencian yang mengerahkan fitnah adalah tanda putus asa, tapi sekalipun tanpa putus asa, ia tidak akan menyebabkan keyakinan-keyakinan berubah. Kekuatan sebuah firman tidak datang dari kata yang terhunus bagaikan lembing. Ya, Nurcholish adalah guru tentang kata-kata yang tidak menusuk, tidak berteriak"
"pemikiran keagamaan, integrasi kebangsaan dan politik" - mungkin tiga poin pemikiran Gus Dur tersebut itulah yang bisa saya pribadi rasakan dalam kehidupanku beragama, berbangsa Indonesia dan gaya politik yang dibenarkan
dan terakhir adalah beliau yang begitu dekat dalam mengkocok serta mengoyak pemikiranku untuk bisa memahami Muhammad sebagai manusia, Islam sebagai Rahmah lil'alamin serta Allah sebagai Tuhan seluruh Makhluk. Beliau tidak lain adalah Cak Nun panggilan akrabnya dengan nama lengkap Muhammad Ainun Najib
”Jadilah bambu. Jangan jadi pisang. Daunnya lebar membuat anaknya tidak kebagian sinar matahari. Bambu lain rela telanjang asal anaknya, rebung, pakaiannya lengkap.” - "Islam Yes - Partai Islam No" (Metafora itulah yang berulang kali dilontarkan cendekiawan Nurcholish Madjid. Beliau salah satu orang yang menurutku pribadi adalah orang yang bisa mengerti, memaknai dan memahami ISLAM secara sempurna - Kata Gus Mus dalam peringatan 1000 hari Beliau di Taman Ismail Marzuki bersama kiai kanjeng beserta Budayawan serta Tokoh Lintas Agama mengatakan bahwa "Cak Nur inilah yang bila dianalogikan melihat ISLAM dengan melihat GAJAH adalah kemampuannya melihat GAJAH bukan semata melihat kakinya saja atau buntutnya saja melainkan melihat GAJAH secara keseluruhan. Lain lagi apa yang dikatakan oleh Mantan Pemimpin tertinggi koran ternama TEMPO - Goenawan Muhammad "Kerendahan hati adalah bagian terdalam dari hasrat berjabatan tangan. Kebencian selalu menjadi angkuh—tetapi kali ini angkuh itu menjadi angkuh karena sebenarnya ada yang membuat ragu, cemas, dan rapuh. Kebencian yang mengerahkan fitnah adalah tanda putus asa, tapi sekalipun tanpa putus asa, ia tidak akan menyebabkan keyakinan-keyakinan berubah. Kekuatan sebuah firman tidak datang dari kata yang terhunus bagaikan lembing. Ya, Nurcholish adalah guru tentang kata-kata yang tidak menusuk, tidak berteriak"
"pemikiran keagamaan, integrasi kebangsaan dan politik" - mungkin tiga poin pemikiran Gus Dur tersebut itulah yang bisa saya pribadi rasakan dalam kehidupanku beragama, berbangsa Indonesia dan gaya politik yang dibenarkan
dan terakhir adalah beliau yang begitu dekat dalam mengkocok serta mengoyak pemikiranku untuk bisa memahami Muhammad sebagai manusia, Islam sebagai Rahmah lil'alamin serta Allah sebagai Tuhan seluruh Makhluk. Beliau tidak lain adalah Cak Nun panggilan akrabnya dengan nama lengkap Muhammad Ainun Najib



0 comments:
Post a Comment